Kasoem Hearing Center bersama Microtia dan Atresia Community menyelenggarakan kegiatan edukatif bertema Menyiapkan Anak Percaya Diri di Usia Sekolah melalui Pendengaran, Komunikasi, dan Peran Orang Tua. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu, 24 Januari 2026, di Kasoem CTEC Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan pendengaran sejak dini. Terutama bagi anak dengan kondisi microtia dan atresia yang membutuhkan perhatian khusus agar dapat berkembang secara optimal, baik secara akademis maupun sosial.
Pendekatan Psikologi dan Audiologi yang Saling Melengkapi
Dalam acara ini, kolaborasi antara Kasoem Hearing Center dan Microtia dan Atresia Community menghadirkan dua narasumber dari latar belakang berbeda. Ray Zairaldi, S.Psi, CBT Trainer & Practitioner, membahas peran kepercayaan diri dan kesiapan mental anak usia sekolah. Sementara itu, Dani Ramdani, M.CAUD, Clinical Audiologist, mengulas pentingnya pendengaran dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari anak.
Kedua materi tersebut saling melengkapi. Peserta diajak memahami bahwa gangguan pendengaran tidak hanya berdampak pada kemampuan mendengar, tetapi juga pada perkembangan emosi, interaksi sosial, dan kepercayaan diri anak di lingkungan sekolah.
Peran Orang Tua dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak
Peran orang tua menjadi fokus utama dalam diskusi. Orang tua diharapkan mampu mengenali tanda-tanda gangguan pendengaran sejak dini serta memahami langkah intervensi yang tepat. Selain itu, komunikasi yang terbuka dan suportif di dalam keluarga menjadi fondasi penting dalam membangun rasa percaya diri anak.
Melalui edukasi yang diberikan, orang tua mendapatkan wawasan praktis mengenai cara mendampingi anak dengan microtia dan atresia agar tetap merasa diterima, dihargai, dan mampu mengekspresikan diri dengan baik.
Komunitas sebagai Ruang Berbagi dan Dukungan
Keterlibatan Microtia dan Atresia Community memberikan nilai tambah dalam kegiatan ini. Komunitas berperan sebagai ruang berbagi pengalaman, pengetahuan, dan dukungan emosional bagi keluarga yang memiliki tantangan serupa. Kehadiran komunitas membantu peserta merasa tidak sendiri dan lebih percaya diri dalam menjalani proses pendampingan anak.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara layanan kesehatan dan komunitas mampu menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. Melalui langkah kecil seperti edukasi bersama, diharapkan kepedulian terhadap kesehatan pendengaran anak terus meningkat dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.







